Kebijakan yang dibahas pada halaman ini merupakan wacana yang mengemuka pada 2016–2017 dan bersifat historis. Untuk kebijakan hari sekolah yang berlaku saat ini, periksa satuan pendidikan dan dinas pendidikan setempat.
Daftar Isi
  1. Definisi Full Day School
  2. Latar Belakang Kebijakan
  3. Tujuan Kebijakan
  4. Perbedaan Durasi Sekolah dan Kualitas Belajar
  5. Dampak bagi Siswa, Keluarga, dan Guru
  6. Kegiatan Sosial dan Keagamaan
  7. Kelebihan dan Kekhawatiran
  8. Respons Masyarakat dan Perkembangan Kebijakan
  9. Pelajaran yang Dapat Diambil
  10. Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ringkasan Artikel
Ringkasan ArtikelKeterangan
Periode wacana utama2016–2017
Dasar kebijakanPermendikbud No. 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah
Kritik utamaPotensi benturan dengan madrasah diniyah/TPA sore hari
Status saat iniTidak diterapkan seragam secara nasional — periksa kebijakan sekolah/daerah terkini

Definisi Full Day School

Full day school adalah istilah populer untuk konsep sekolah dengan hari belajar yang lebih panjang namun jumlah hari sekolah dalam seminggu yang lebih sedikit — umumnya lima hari sekolah dengan durasi harian yang diperpanjang, dibanding pola enam hari sekolah dengan durasi harian yang lebih pendek.

Latar Belakang Kebijakan

Wacana ini mengemuka secara luas di Indonesia sekitar 2016–2017, saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah Menteri Muhadjir Effendy mendorong kebijakan hari sekolah delapan jam sehari selama lima hari kerja, yang kemudian dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Tujuan Kebijakan

Tujuan yang dikemukakan pemerintah saat itu antara lain memberi ruang lebih besar bagi penguatan pendidikan karakter di sekolah, serta membantu orang tua yang bekerja karena anak berada di lingkungan sekolah lebih lama pada hari kerja.

Perbedaan Durasi Sekolah dan Kualitas Belajar

Perdebatan publik banyak berkisar pada apakah durasi belajar yang lebih panjang otomatis meningkatkan kualitas belajar, atau justru berisiko menurunkan konsentrasi dan kesejahteraan siswa jika tidak diimbangi dengan desain kegiatan yang variatif.

Dampak bagi Siswa, Keluarga, dan Guru

Bagi siswa, kebijakan ini berarti waktu belajar formal di sekolah bertambah panjang. Bagi keluarga, terutama yang memiliki anak mengikuti pendidikan keagamaan sore hari seperti madrasah diniyah, kebijakan ini berpotensi mengurangi waktu tersebut. Bagi guru, penerapannya berarti penyesuaian jadwal dan beban kerja harian.

Kegiatan Sosial dan Keagamaan

Salah satu kritik utama datang dari kalangan penyelenggara pendidikan keagamaan nonformal, seperti madrasah diniyah dan taman pendidikan Al-Qur'an, yang khawatir kebijakan ini akan berbenturan dengan jadwal belajar keagamaan sore hari yang sudah berjalan lama di banyak daerah.

Kelebihan dan Kekhawatiran

Pendukung kebijakan ini menekankan potensi penguatan pendidikan karakter dan dukungan bagi orang tua bekerja. Pihak yang khawatir menyoroti potensi benturan dengan pendidikan keagamaan nonformal, beban belajar siswa, serta kesiapan infrastruktur sekolah untuk kegiatan yang lebih panjang.

Respons Masyarakat dan Perkembangan Kebijakan

Kebijakan ini menuai respons pro dan kontra yang luas di masyarakat, termasuk dari organisasi keagamaan dan pendidikan. Pemerintah kemudian meninjau ulang ketentuan tersebut, sehingga penerapannya tidak seragam secara nasional dan bergantung pada kesiapan masing-masing daerah dan satuan pendidikan.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Kebijakan ini menjadi contoh penting bagaimana perubahan sistem sekolah perlu mempertimbangkan konteks sosial dan keagamaan yang beragam di Indonesia, dan bagaimana proses uji publik dapat mendorong peninjauan ulang kebijakan sebelum diterapkan secara luas.

Fakta Singkat

  • Wacana ini mengemuka luas di Indonesia sekitar 2016–2017.
  • Permendikbud No. 23 Tahun 2017 mengatur ketentuan tentang hari sekolah delapan jam lima hari kerja.
  • Kebijakan ini ditinjau ulang menyusul respons pro-kontra dari masyarakat.

Mengapa Ini Penting?

Kebijakan ini adalah contoh nyata bagaimana reformasi sistem sekolah bisa berbenturan dengan struktur pendidikan keagamaan nonformal yang sudah lama berjalan di masyarakat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kebijakan full day school masih berlaku di seluruh Indonesia sekarang?

Tidak seragam. Kebijakan ini ditinjau ulang setelah menuai pro-kontra, sehingga penerapannya bervariasi antardaerah dan satuan pendidikan. Periksa kebijakan sekolah dan dinas pendidikan setempat untuk status terkini.

Apa dasar hukum kebijakan full day school?

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Mengapa kebijakan ini menuai kontroversi?

Terutama karena kekhawatiran akan berbenturan dengan jadwal pendidikan keagamaan nonformal sore hari, seperti madrasah diniyah, yang sudah berjalan lama di banyak komunitas.

Sumber

  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.
  • Liputan publik mengenai perdebatan kebijakan hari sekolah pada 2016–2017.
  • Situs resmi Kementerian Pendidikan untuk kebijakan terkini — lihat daftar sumber.
Menemukan kekeliruan atau informasi yang perlu diperbarui? Lihat kebijakan koreksi kami atau hubungi redaksi.

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan pendidikan. Untuk kebutuhan akademik, pendaftaran, kebijakan, akreditasi, atau rekrutmen, pembaca disarankan memeriksa sumber primer dan situs resmi terkait.

Lihat Linimasa Metodologi Kami Daftar Sumber