Propellerads

Guru: Ibu “marah” Karena Sayang Kamu, Nak!

Propellerads
Kisah Inspiratif Guru – Kisah ini masih sangat jelas tergambar di benakku. Aku adalah seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar swasta di kota cirebon. Selain mengajar, aku juga diberi tugas melatih siswa siswi peserta ekskul bahasa Inggris setiap hari sabtu. Meskipun aku mengajar bahasa Inggris, tetapi bagiku mendidik moral dan akhlak anak anak didik tetap menjadi prioritas utama. Maka setiap kali mengajar aku selalu mengingatkan anak anak untuk bersikap sopan santun baik terhadap teman maupun guru dan semua warga sekolah.
Guru Maarah (source: diginomica.com )
Suatu hari, di hari sabtu, aku seperti biasa melatih anak anak ekskul bahasa Inggris. Dari kurang lebih 30 siswa/siswi, ada satu siswa yang sikapnya menurutku kurang sopan. Dan hari itu adalah puncak dimana dia menunjukkan sikap sangat sangat tidak beretika terhadap guru. 
Saat itu materi ekskul adalah speaking practice. Ekskul sudah berjalan kurang lebih 10 menit. Tiba tiba seorang siswa masuk kelas tanpa salam dan tanpa rasa bersalah langsung duduk di bangku paling belakang. Aku tanya kenapa terlambat, kenapa tidak memberi salam, dia malah menjawab “akkhh ibu..males ah!!”‘Astagfirullah…Aku kembali menerangkan materi, lalu satu persatu siswa diminta maju ke depan dan berbicara bahasa Inggris sesuai yang dicontohkan. Tiba giliran siswa tersebut untuk maju, tetapi dengan wajah yang sangat muram dan nada tinggi dia menolak untuk maju.”Baiklah, ananda nanti gilirannya terakhir saja ya..” kataku padanya. Dia tidak menjawab. Tak lama kemudian, dia ambil hp dari sakunya (diperbolehkan bawa hp non multimedia sebagaai sarana komunikasi dengan ortu). Mulailah dia ngobrol dengan santainya tanpa memperhatikan teman yang tengah maju ke depan dan tanpa mengindahkan peringatanku untuk menghentikan pembicaraan di hp nya. 
Kembali aku memperingatknnya baik baik untuk berhenti berbicara , tetapi apa yang dia lakukan?? Dengan gaya “cuek bebek” dan wajah muram durja sambil terus berbicara di hp dan tangan satunya menenteng tas, dia keluar kelas tanpa menoleh ke arahku sedikitpun apalagi mendengarkan ucapanku.
Bagiku sikap seperti ini tidak boleh dibiarkan dan tidak dapat dianggap hal wajar. Karena ini berkaitan dengan akhlak. Kalau aku diam saja, sama halnya aku membiarkan anak didikku “tidak terdidik”. Bagaimana kelak dia menghargai orang lain?? Maka, aku kejar keluar kelas dan aku tarik tangannya. Aku tanya “Mau kemana?” Dia jawab “Mau pulang bu”.. Lalu aku bilang “Boleh kamu pulang duluan, tetapi ada adabnya, izin dulu sama bu guru dan bilang mau pulang lebih awal karena ada keperluan… datang saja telat tanpa salam sekarang keluar tanpa pamit!!” Saat itu nada bicaraku meninggi karena aku menganggap anak kelas 6 SD sudah berani mengabaikan guru apalagi kelak dia dewasa. Melihat sorot mataku yang tajam dan nada bicaraku yang tinggi, dia merasa kikuk dan merah padam wajahnya, entah malu entah marah entah sedih, aku tak tahu.
Kemudian aku bawa kembali ke kelas, aku jelaskan kepada siswa siswi yang lain bahwa sikap seperti barusan itu tidak sopan dan tidak menghargai orang lain dan tentu tidak patut untuk ditiru. Aku menyuruhnya meminta maaf pada teman teman dan pada guru pembimbing lainnya karena ada 2 guru saat itu, aku dan temanku. Akhirnya dia meminta maaf dan bersalaman dengan kami. Kemudian aku tanya apakah betul betul dia mau pulang karena ada keperluan, dia mengangguk. Lalu aku izinkan dia pulang dan sebelumnya berjanji di hadapan teman teman untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Dan jika mengulangi lagi, aku akan menghubungi orangtuanya. Ketika dia bersalaman denganku, aku usap kepalanya dan aku doakan agar dia kelak menjadi anak yang berakhlak mulia. Aku katakan padanya bahwa “Ibu marah karena ibu sayang sama kamu, nak…ibu anggap kamu anak ibu sendiri jadi ibu tidak mau anak ibu bersikap tidak sopan” Mungkin saat itu dia masih emosi dan masih belum mencerna perkataanku karena wajahnya masih bermuram durja.
Waktu berlalu..suatu hari aku berpapasan dengan anak tersebut..eiit diluar dugaanku, dia membalikkan badan dan mengucap salam sambil bersalaman denganku. Byuuuuuurrrr!!! rasanya seperti disiram air ditengah padang pasir. Rasa haru pun menyeruak, Alhamdulillah sebagai guru aku bisa mengarahkan anak didikku untuk berakhlak baik dan berlaku sopan santun. Padahal sebelum kejadian itu, dia adalah anak yang sangat cuek, selalu bertengkar dengan temannya dan sangat tidak sopan terhadap guru baik tingkah lakunya ataupun ucapannya. Dan di pertemuan ekskul berikutnya, sikapnya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Semoga kejadian singkat ketika ekskul itu akan membekas dan memberi kesan berarti baginya hingga kelak dia menjadi manusia seutuhnya dengan sikap, ilmu dan amal yang positif.Itulah beratnya tugas pendidik, bukan hanya sekedar mentransfer ilmu tetapi membentuk kepribadian anak anak didik agar berakhlak mulia. Karena banyak manusia pandai tetapi tidak bermoral hingga korupsi pun terjadi dan bahkan kedzoliman merajalela. Jadi, tugas guru adalah bukan hanya mengajar tetapi yang lebih penting adalah mendidik moral anak anak bangsa disertai do’a tulus dan tindakan nyata.

JENDELA PENULIS

Ibu Pitriyah
Nama : Pitriyah
Pendidikan: S1 Pendidikan Bahasa Inggris STAIN Cirebon
Pekerjaan: guru bahasa Inggris SDI Al Azhar 3 Cirebon
Propellerads
author
Author: 
    carisponsor.id – Atasi Masalah dalam Mencari Sponsor
    Pedidikanindnesia.com – Masalah dalam mencari sponsor hampir
    BEASISWA STUNED – SHORT COURSE DI BELANDA FULL GRATIS
    StuNed – Short Course merupakan salah satu
    Pencipta Drone Tanpa Baling-Baling Pertama di Dunia Ternyata Remaja Asal Indonesia
    Pencipta Drone Tanpa Baling-Baling Pertama di Dunia Ternyata Remaja Asal Indonesia
    Penemu drone tanpa baling-baling – Perkembangan drone

    Leave a reply "Guru: Ibu “marah” Karena Sayang Kamu, Nak!"

    Must read×

    Top